Ilustrasi
JAKARTA - Di awal 2012 ini, pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan terus mengalami volatilitas di kuartal pertama tahun ini. Meskipun begitu, volatilitas ini akan lebih cenderung menurun di akhir tahun.
"Foreign investment portofolio tidak banyak yang masuk, imvestor lebih memilih masuk ke US Treasury Bond (obligasi AS) dan obligasi Jepang misalnya karena terdorong situasi global. Ini yang membuat kurs rupiah (terhadap dolar AS) cenderung volatil awal tahun," ungkap pengamat ekonomi Standard Chartered Erick A Suganda ditemui dalam Global Researche Briefing di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (11/1/2011).
Nilai tukar rupiah di perdagangan kemarin, berdasarkan kurs rupiah BI ditutup di angka Rp9.190. Di perdagangan hari ini, rupiah dinilai akan melemah di angka Rp9.150-Rp9.250 per USD. Meskipun begitu, Erick menilai bahwa di akhir tahun, atau mulai kuartal empat tahun ini, arus modal akan kembali masuk.
"Foreign investment portofolio akan deras masuk, meskipun tidak sekencang tahun lalu ya, tetapi itu akan membuat rupiah aman di Rp8.700 per USD," lanjut dia.
Bank Indonesia, lanjut Erick juga akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk mencegah agah pergerakan rupiah ini terlalu bergerak bebas. "Langkah BI hanya untuk mencegah rupiah tidak bergerak terlalu volatil. Cadangan devisa yang digunakan untuk intervensi ini masih lebih dari cukup," tambah Erick tanpa menyebutkan angka pasti cadangan devisa.
Sebelumnya, Standard Chartered Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya di angka 5,8 persen dengan inflasi berkisar di lima persen. Nilai tukar rupiah sendiri, di akhir tahun diprediksi mencapai Rp8.700 per USD. (wdi)
"Foreign investment portofolio tidak banyak yang masuk, imvestor lebih memilih masuk ke US Treasury Bond (obligasi AS) dan obligasi Jepang misalnya karena terdorong situasi global. Ini yang membuat kurs rupiah (terhadap dolar AS) cenderung volatil awal tahun," ungkap pengamat ekonomi Standard Chartered Erick A Suganda ditemui dalam Global Researche Briefing di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (11/1/2011).
Nilai tukar rupiah di perdagangan kemarin, berdasarkan kurs rupiah BI ditutup di angka Rp9.190. Di perdagangan hari ini, rupiah dinilai akan melemah di angka Rp9.150-Rp9.250 per USD. Meskipun begitu, Erick menilai bahwa di akhir tahun, atau mulai kuartal empat tahun ini, arus modal akan kembali masuk.
"Foreign investment portofolio akan deras masuk, meskipun tidak sekencang tahun lalu ya, tetapi itu akan membuat rupiah aman di Rp8.700 per USD," lanjut dia.
Bank Indonesia, lanjut Erick juga akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk mencegah agah pergerakan rupiah ini terlalu bergerak bebas. "Langkah BI hanya untuk mencegah rupiah tidak bergerak terlalu volatil. Cadangan devisa yang digunakan untuk intervensi ini masih lebih dari cukup," tambah Erick tanpa menyebutkan angka pasti cadangan devisa.
Sebelumnya, Standard Chartered Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya di angka 5,8 persen dengan inflasi berkisar di lima persen. Nilai tukar rupiah sendiri, di akhir tahun diprediksi mencapai Rp8.700 per USD. (wdi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar